MUNTILAN – Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan alat atau teknologi baru. Gereja perlu mengembangkan sikap kritis terhadap AI karena teknologi digital tidak pernah sepenuhnya netral dan berpengaruh dalam membentuk cara manusia berpikir, berelasi, dan memandang dunia.

Demikian disampaikan Ketua Tim Informasi Teknologi Keuskupan Agung Semarang Romo Dominicus Donny Widiarso Pr dalam sesi pelatihan Training of Trainers (TOT) Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Pusat Pastoral Sanjaya, Muntilan, Jawa Tengah, Rabu (26/08/2026).

Dalam paparannya, Donny mengajak peserta yang terdiri dari para ketua komsos keuskupan dan timnya untuk melihat AI tidak hanya dari sisi manfaat praktis, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan manusia dan komunitas Gereja.

Menurut Romo Donny, perkembangan AI perlu dibaca dalam terang dokumen Gereja terbaru yang membahas teknologi digital dan kecerdasan artifisial. Karena itu, Gereja perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam daripada sekadar bagaimana memanfaatkan teknologi.

“Pertanyaan yang penting bukan hanya untuk apa kita memakai alat ini, tetapi juga apa yang dilakukan alat ini terhadap kita dan apa yang diabaikan oleh alat tersebut,” ujarnya.

Teknologi Tidak Pernah Netral

Dalam paparannya, Romo Donny menyoroti pandangan yang selama ini menganggap teknologi sebagai sesuatu yang netral. Menurutnya, setiap teknologi mengandung nilai, pilihan, dan cara pandang tertentu yang diwariskan oleh para perancang, pemilik, maupun pihak yang mengembangkan teknologi tersebut.

Ia mencontohkan berbagai fitur digital yang secara tidak langsung membentuk persepsi manusia tentang kecantikan, kesuksesan, atau kehidupan ideal. Karena itu, pengguna teknologi perlu menyadari bahwa alat-alat digital dapat memengaruhi cara manusia memahami dirinya sendiri dan orang lain.

“Setiap alat membawa pilihan tertentu. Kita perlu bertanya siapa yang menentukan ukuran itu dan nilai apa yang ditanamkan di dalamnya,” katanya.

AI dan Ancaman Hilangnya Perjumpaan

Romo Donny juga mengingatkan bahwa AI mampu menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan, tetapi tidak sungguh-sungguh memahami makna dari apa yang dikatakannya. Karena itu, AI tidak boleh diperlakukan sebagai pengganti relasi manusia ataupun pendampingan pastoral.

Ia mengutip berbagai contoh penggunaan AI yang menimbulkan persoalan karena pengguna menganggap sistem tersebut memiliki pemahaman dan otoritas yang sesungguhnya tidak dimiliki. Salah satu risiko terbesar adalah ketika manusia mulai menggantikan perjumpaan nyata dengan interaksi yang dimediasi sepenuhnya oleh mesin.
“Jangan sampai kita menggunakan teknologi yang justru menghapus perjumpaan manusia” tegasnya.

Bagi KOMSOS, lanjutnya, ukuran keberhasilan pemanfaatan teknologi bukan semata-mata jumlah konten yang diproduksi atau banyaknya penonton yang diraih, melainkan sejauh mana teknologi membantu membangun relasi dan perjumpaan antarmanusia.

Tantangan Kebenaran di Era Digital

Dalam sesi tersebut, Romo Donny juga menyoroti persoalan penyebaran informasi dan konten visual yang semakin mudah dimanipulasi dengan bantuan AI. Menurutnya, kemajuan teknologi membuat produksi gambar, video, maupun narasi yang tampak meyakinkan menjadi semakin mudah dilakukan.

Akibatnya, tantangan terbesar bukan hanya soal teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana menjaga kebenaran di tengah banjir informasi digital. Ia mengingatkan bahwa Gereja tidak boleh mengorbankan kebenaran demi popularitas atau daya tarik visual semata.

“Kesaksian hidup yang nyata tetap lebih penting daripada konten yang terlihat sempurna tetapi tidak sesuai kenyataan,” katanya.

Mengembangkan Discernment Digital

Selain memaparkan berbagai tantangan AI, Romo Donny juga menampilkan sejumlah contoh pemanfaatan teknologi untuk mendukung katekese dan pendidikan iman, termasuk permainan digital serta aplikasi pembelajaran berbasis AI yang dikembangkan untuk membantu kegiatan pastoral.

Namun ia menegaskan bahwa keterampilan menggunakan AI saja tidak cukup. Gereja perlu mengembangkan kemampuan discernment atau pembedaan roh dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Menurutnya, setiap produk dan inovasi digital perlu dinilai berdasarkan pertanyaan-pertanyaan mendasar: apakah membantu manusia bertumbuh, membangun perjumpaan, memperkuat komunitas, dan selaras dengan misi Gereja.

“Sepanjang hari ini kita belajar bukan sekadar membuat sesuatu dengan AI, tetapi juga belajar menilai dan membedakan mana yang sungguh membantu karya perutusan Gereja,” ujarnya.

Melalui refleksi tersebut, Romo Donny mengajak para peserta TOT KOMSOS KWI untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang terampil, tetapi juga pelayan komunikasi Gereja yang mampu menempatkan AI sebagai sarana untuk melayani manusia, membangun komunitas, dan menghadirkan perjumpaan yang semakin manusiawi di era digital.

Penulis : Gabriel Abdi Susanto