Sejarah “Misi Kristus Raja” Purwokerto 

 

      Sampai dengan tahun 1927, daerah yang sekarang menjadi keuskupan Purwokerto masih menjadi bagian Vikariat Apostolik Batavia. Pada tahun 1927 inilah, reksa pastoral wilayah ini dipercayakan oleh Paus kepada kongregasi Missionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Karya misi ini dipersembahkan kepada Kristus Raja, maka karya misi ini juga dinamakan dengan misi “Kristus Raja”. Pada bulan Oktober 1927, datanglah para misionaris pertama: Pater BJJ. Visser MSC, Pater de Lange MSC, dan Pater B. Thien, MSC

 

    Disebutkan dalam buku “Sejarah Keuskupan Purwokerto”, Pater BJJ. Visser MSC membuat nota mengenai ide ‘pengembangan kebudayaan Kristen’ di tanah misi yang ditujukan kepada Pater General MSC beberapa tahun sebelum akhirnya restu berangkat ke tanah misi diberikan. Inilah yang dapat disebut sebagai tujuan dari misi “Kristus Raja” ini, yaitu pengembangan kebudayaan Kristen. Tafsiran atas tujuan ini dapat bermacam-macam karena memang tidak dijelaskan lebih lanjut dalam buku sejarah yang ada. Salah satu tafsiran adalah berdasarkan rekonstruksi historis bertumpu pada beberapa arsip foto yang terarsipkan. Dalam foto hitam putih itu, ditunjukkan bagaimana pelayanan para misionaris pada umat dari mulai katekumen sampai pemakaman. Pembaptisan di gereja tertentu (misalnya di Gereja Purworejo) ada fotonya, lengkap dengan anak-anak katekumen yang dibaptis dengan memakai pakaian putih dan kain putih dan membawa gambar. Ditemukan juga arsip foto perkawinan di gereja tertentu (Gereja Gombong). Demikian juga, ada foto upacara pemakaman (di Purworejo). Itu artinya, pembudayaan tradisi Kristen dihadirkan di seluruh dimensi kehidupan dari awal menjadi Katolik sampai meninggalnya. Boleh diartikan lebih lanjut, para misionaris mau menunjukkan bahwa ketika orang menjadi Katolik, seluruh hidupnya dijiwai tradisi Katolik dengan ritual-ritualnya: katekumen, baptis, komuni pertama, krisma, sampai pemakaman.[1] Dari sudut pandang antropologis, agama dengan ritual-ritualnya dan tradisi-tradisinya jelas menjadi salah satu unsur kebudayaan. Selain dari sisi ritual dan tradisi, ciri khas Gereja Katolik juga menjadi salah satu indikasi pembudayaan kekristenan itu, misalnya sistematis, hirarkis, organisatoris, dls. Ciri khas Gereja macam ini mewaris sampai kini. Inilah tanda proses pembudayaan kekristenan terjadi di sana.

 

Yang disebut “Misi Kristus Raja” itu daerah mana saja?

   Dalam dokumen dari Vatikan ketika mendirikan Perfektur Apostolik Purwokerto pada tanggal 21 April 1932, tertulis dalam bahasa Latin: territorium residentiarum de Pekalongan, Banjoemas, et Kedoe. Dalam dokumen tersebut juga ditulis bahwa wilayah ini sebelumnya adalah wilayah Vikariat Batavia.[2] Pada tanggal 25 Oktober 1927, terjadi serah terima Paroki Purworejo dari misionaris Jesuit ke misionaris MSC; Pater de Lange, MSC. Pada tanggal 28 Oktober 1927, terjadi serah terima Paroki Tegal dari misionaris Jesuit ke misionaris MSC; Pater B. Thien, MSC. Pada tanggal 24 November 1927, terjadi serah terima Paroki Purwokerto dari misionaris Jesuit ke misionaris MSC; Pater BJJ. Visser, MSC.

 

Mengapa disebut “Misi Kristus Raja”?

      Pertama, bersumber dari buku “Sejarah Keuskupan Purwokerto” Pater BJJ. Visser, MSC menamakan yayasan pendidikan yang didirikannya dengan nama “Yayasan Pius”. Hal ini dimaksudkan sebagai kenangan akan sosok/pribadi Paus Pius XI yang telah memberi restu kepada mereka untuk membuka karya misi. Berdasarkan logika ini, penamaan “Kristus Raja” masih erat kaitannya dengan pribadi Paus Pius XI. Yang terkait dengan  hal ini adalah ensiklik dari Paus Pius XI (1 Feb 1922 – 10 Feb 1939) mengenai penetapan hari Raya Kristus Raja Semesta Alam pada tanggal 11 Desember 1925, yaitu Ensiklik Quas Primas. Dapat dimengerti bahwa semua petugas pastoral pada zaman itu, terutama para klerus dimanapun mereka berada punya tanggungjawab untuk menggaungkan pesan yang ditulis Paus pada zamannya itu supaya sampai pada umat dimanapun berada.

 

    Kedua, bersumber sebuah dokumen kecil berupa undangan atau pemberitahuan mengenai pembangunan Gereja Katedral Purwokerto yang dipersembahkan untuk menghormati Kristus Raja. Dokumen ini berangka tahun 1930, Minggu pertama Masa Prapaskah. Tertulis dalam bahasa Latin demikian, “ANNO DOMINI MCMXXX in Dominica prima QUADRAGESIMAE vices CHRISTI REGIS in terra feliciter nono jam anno gorente PIO PAPA XI strenue augendo fidelium numero laborante, maxime quoque Sacritissimi Cordis cultui zelante; ANTONIO FRANCISCO VAN VELSEN SJ Vicario Apostolico Bataviensa suum in dies crescentem gregem paterne pascente; WILHELMINA REGINA, suum etiam in Indis populum ingentem pacificae gubernante, IN HONOREM CRISTI REGIS huius ecclesiae, apte et pulcre a fabris FERMON et CUYPERS mente conceptae, eorumque opera et labore aedificandae primum posuit lapidem Bernardus Joseph Joannes Visser, Missionarius Sacratissimi Cordis Jesu.”[3]

 

Bagaimana pembagian kronologi sejarah misi pada waktu itu?

“Misi Kristus Raja” dapat dibagi menjadi 3 periode:

 

A. Periode Pra-Misi

    Periode pra-misi menunjuk angka tahun sebelum tahun 1927, yaitu sebelum para misionaris MSC datang pertama kali di daerah misi ini. Hal ini ditandai dengan ‘lewatnya’ para misionaris dari Vikariat Batavia melalui daerah ini dengan jalan darat. Bukti-bukti dapat dirunut dalam 3 hal sebagai berikut:

  1. Pada masa Vikaris Batavia dijabat oleh Mgr. E.S. Luypen, SJ (1898-1923): “…selama pemerintahan Luypen, dibangun pula gereja-gereja baru, kebanyakan untuk orang-orang Katolik Eropa di Surabaya, Manado, Magelang (1900), Sukabumi (1902), Mendut dan Tomohon (1903), Salatiga, Medan dan Koting di Flores (1905), Malang (1906), Lela (1907), Muntilan dan Semarang-Candi (1915), serta Solo (1916).”[4]

  2. Pada masa Vikaris Batavia dijabat oleh Mgr. van Velsen, SJ (1923-1933): “…selama masa tugasnya, ia berhasil mendirikan tidak kurang dari 11 bangunan gereja di Jawa Tengah: Ambarawa, Yogyakarta, Sedayu, Medari, Somohitan, Boro, Kalasan, Klepu, dan Ganjuran.”

  3. Kesaksian Pater Paul de Blot, SJ: “Ketika saya tinggal di Kutowinangun hanya ada satu Vikariat Batavia. Jateng selatan masuk paroki Kidulloji Yogya dan pastornya keliling naik bendi dengan kosternya. Demikian dia juga mampir di Kutowinangun, bermalam di rumah kita dan baptis saya. Demikian juga adik saya dibaptis oleh pastor dari Kidulloji. Belum ada gereja Katolik, hanya Protestan di Kebumen. Jateng utara dilayani oleh Paroki Gedangan, Semarang.”[5]

     Dari 3 hal yang disebutkan di atas, pertanyaan historis muncul: mengapa tidak satupun gereja Katolik dibangun di wilayah Keuskupan Purwokerto? Kata ‘lewat’ di atas dan kata ‘mampir’ dalam kesaksian Pater Paul de Blot, SJ dapat memberi jawaban atas pertanyaan tersebut. Wilayah yang sekarang disebut Keuskupan Purwokerto dan yang dulu disebut wilayah ‘Misi Kristus Raja’ menjadi wilayah yang dilewati para misionaris dari Batavia menuju Yogyakarta dan Semarang, atau sebaliknya, pada waktu itu. Dalam perjalanan lewat tersebut, sangat dimungkinkan para misionaris tersebut ‘mampir’ sehingga dalam dinamika ‘mampir’ atau singgah tadi terjadi kontak, komunikasi, dan introduksi kekristenan. Apa yang disebutkan dalam buku “Sejarah Keuskupan Purwokerto” mengenai beberapa tempat seperti Tegal-Pekalongan yang disebut sebagai ‘stasi persinggahan’ cukup memberi konfirmasi masuk akal akan penalaran historis mengenai hal ini.

 

B. Periode Misi

     Hitungan periode misi dimulai sejak tahun 1927 ketika para misionaris menginjakkan kaki di tanah misi ini. Periode ini ditandai dengan: serah terima tiga paroki pertama: Purworejo, Tegal, Purwokerto; pendirian Yayasan Pius yang diikuti dengan pendirian beberapa sekolah: Hollandsch Chineesche School de Piusstichting Tjilatjap (1933), Vackschool Baroe (Tjilatjap 1933), Opening Vackschool and Internaat (Wonosobo 1939); pembangunan beberapa gereja paroki: peresmian gereja Purworejo pada 13-15 Agustus 1933, penerbitan buku-buku sebagai sarana katekese misalnya: “Ilmoe Jang Benar” pada tahun 1938, “Kehidoepan Kekal” pada tahun 1935, “Sembahjangan Padinan” pada tahun 1939; pendirian Perfectur Apostolik Purwokerto pada tahun 1932, dst.[6]

C. Periode Pasca-Misi

       Periode pasca-misi ditandai dengan perubahan status dari Perfectur Apostolik ke Vikariat Apostolik. Hal ini dapat dirujuk pada tanggal 16 Desember 1949 sebagai tanggal dilantiknya Mgr. W. Schoemaker, MSC sebagai Vikaris Apostolik Purwokerto. Pada periode pasca misi, juga mulai dikenal dengan perangkat-perangkat pelayanan umat, misalnya dengan Madjakat (Madjelis Aksi Katolik) pada 4 April 1955, pendirian Probatorium (Juli 1949) lanjut menjadi Seminari Minus Purwatapa (1 Agustus 1951).[7] Periode ini juga dikenal sebagai periode ‘embrionik’ (atau persiapan) adanya status Keuskupan Purwokerto pada tahun 1961. Tahun 1961 menjadi tahun ‘sakral’ karena sebagai penanda pendirian Hirarki Gereja Indonesia dengan Konstitusi Apostolik “Quod Christus” pada tanggal 24 Januari 1961 oleh Bapa Suci Yohanes XXIII. Uskup Pertama Keuskupan Purwokerto adalah Mgr. W. Schoemaker, MSC. Demikian seterusnya, periode berganti menjadi periode Keuskupan.

Uskup selanjutnya adalah :

  • Paskalis Hardjasumarta MSC (1974 – 1999)

  • Julianus Sunarka SJ (2000 – 2016)

  • Christophorus Tri Harsono (2018 – …..)

      Tahun 2017, Keuskupan Purwokerto memperingati 90 tahun Misi Kristus Raja. Perjalanan 90 tahun “Misi Kristus Raja” mengamanatkan sebuah kesadaran reflektif yang mendalam akan apa artinya budaya kekristenan, budaya kekatolikan. Kalau Katolik sudah menjadi budaya dalam hidup penganutnya, itu berarti bukan sekedar menjadi ‘agama’ yang ‘diagem’ (ageman, bhs. Jawa, pakaian), tetapi merasuk ke dalam, menjadi ‘jiwa’ bagi penganutnya, menjadi ‘roh’ bagi penganutnya, menjadi ‘nafas’ bagi penganutnya. Hal ini mengandaikan bahwa kekatolikan bukan hanya di ‘permukaan’ saja, tetapi ke dalam. Inilah tantangan yang meski kita hadapi, setelah kita merayakan “90 Tahun Misi Kristus Raja”. Semoga Roh Kudus menuntun Gereja, menuntun kita semua.

 

Catatan Kaki:

[1] Bahkan terdapat foto mengenai Paguyuban Kematian Santo Camilus di Purworejo pada tahun 1939.

[2] Dokumen ini diarsipkan di ruang arsip Keuskupan, sudah dilaminating dengan tulisan tangan dalam bahasa Latin, pada bagian atas tertulis PIVS PP. XI, AD FUTURAM REI MEMORIAM….

[3] Dokumen ini diarsipkan di ruang arsip Keuskupan, sudah dimasukkan dalam album foto karena ukurannya kecil seperti undangan, ditulis dalam bahasa Latin, di bagian atas ada gambar bangunan gereja dan di bawahnya tertulis ANNO Dimini MCMXXX in Dominica Prima QUDREGESIMAE vices CHRISTI REGIS in terra feliciter nono jam anno gorente PIO PAPA XI. Pada bagian bawah terdapat beberapa tanda tangan, termasuk Bernadus Joseph Joannes Visser.

[4] Karel Steenbrink, Orang-orang Katolik di Indonesia 1808-1942: Pertumbuhan yang spektakuler dari minoritas yang percaya diri 1903-1942, Sebuah profil sejarah, Jilid 2, Ledalero: Moumere, 2006.

[5] Email pribadi: Selasa, 12 April, 2011, 4:06 AM

[6] Dikutip dari dokumen kuno yang diarsipkan di Keuskupan, beberapa tertulis dalam bahasa Jawa ejaan lama, dan dalam bahasa Indonesia ejaan lama, serta bahasa Belanda.

[7] Stefanus Heriyanto, Madjakkat: Tinjauan Kebijakan Misioner Mgr. W. Schoemaker, MSC dalam Sejarah Perkembangan Keuskupan Purwokerto, Tesis Magister Theologi 2011.

 

Penulis: RD. Stefanus Heriyanto 

 

“Aku masih ingin mengunjungi tempat-tempat kita yang lain. Tetapi: “Hati manusia memikirkan jalannya. Namun, Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”
(Amsal 16 : 9)
B.J.J. Visser, MSC

Vikaris Apostolik (1941-1949)

Mgr. W. Schoemaker, MSC

Uskup Keuskupan Purwokerto I (1949-1974)

“Vince in Bono Malum!”
(Kalahkan kejahatan dengan kebaikan!)
Mgr. Paschalis Hardjoesoemarta, MSC

Uskup Keuskupan Purwokerto II (1974-1999)

“Non Mea Sed Tua Voluntas” 
(Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu)
[Luk  22:42]
Mgr. Julianus Sunarka

Uskup Keuskupan Purwokerto III (2000-2018)

“Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum!”
(Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu!)
[Luk 1 : 38]
Mgr. Christophorus Tri Harsono

Uskup Keuskupan Purwokerto IV (2018- .....)